KPU Solo Kaji Penyebab Golput

Fenomena golongan putih (golput) atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam setiap pemilu selalu menjadi salah satu tolok ukur kredibilitas keberhasilan pemilu. Pemilukada Kota Surakarta yang telah terlaksana tanggal 26 April 2010 lalu menurut sebagian pengamat dipredikasi bahwa tingkat golput di Solo akan tinggi, bahkan mencapai di atas 40% disebabkan karena hari pemungutan suara bertepatan dengan hari kerja (yang diliburkan).

Namun, prediksi tersebut terbantahkan ketika hasil perhitungan dari berbagai sumber menyatakan bahwa tingkat partisipasi pemilih di Solo diluar dugaan ternyata tingkat partisipasinya tinggi, terlebih hasil tersebut diperkuat dengan hasil perhitungan dan rekapitulasi yang dilakukan oleh KPU Kota Surakarta yang menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih sebesar 71,80%, artinya tingkat ketidakhadiran pemilih/golput hanya 28,20%. “Tingkat partisipasi pemilih ini tertinggi diantara 5 (lima) Kabupaten/Kota yang sudah menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah di Jawa Tengah. Tingginya partisipasi ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian serta kesadaran politik masyarakat Kota Solo dan sekaligus menepis anggapan orang bahwa masyarakat sudah jenuh pemilu dan enggan datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya”, ungkap Agus Sulistyo, selaku Divisi Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga KPU Solo ini.

Menurut Ketua KPU Solo Didik Wahyudiono, disampaikan bahwa “sebagai tindak lanjut, KPU Kota Surakarta akan melakukan kajian penyebab mengapa masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya. KPU akan melakukan kajian berdasarkan survey sederhana dengan metode wawancara mendalam (indepth interview)”.

Sampel ditentukan dengan metode purposive sampling diambil terhadap 11% (sebelas persen) dari TPS yang tersebar di seluruh Kota Surakarta. Metode pengambilan sampel dengan cara PPS akan melakukan wawancara terhadap 2 (dua) orang Ketua/Anggota KPPS yang berada di wilayah kerjanya. Variabel yang menjadi varian golput (tidak menggunakan hak pilih) adalah: nama ganda, meninggal, pindah domisili, bekerja di luar kota dan alasan lainnya (sakit, bepergian, alasan politis).

Dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) yang dilakukan di 102 TPS oleh PPS, diharapkan akan memberikan gambaran sejauhmana varian tidak menggunakan hak pilih yang disebabkan karena alasan politis tersebut signifikan atau tidaknya menjadi pemicu terhadap tingginya golput di Kota Surakarta. Setelah diperoleh hasil, laporan disampaikan kepada KPU tanggal 22 Mei 2010, selanjutnya akan dikaji dan menjadi bahan evaluasi dalam Focus Group Discussion (FGD) di tingkat PPK dan KPU yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010 mendatang. (red).

1 Response to “KPU Solo Kaji Penyebab Golput”


  1. 1 kpudemak 3 Juni 2010 pukul 06:12

    Ingin ngangsu kawruh lagi ke Solo, untuk mendalami Golput-nya. Tapi,… kami tahan dulu sampai adanya dukungan moril dan materiil.

    Wassalam.
    Machmud – Demak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: