Archive for the 'Pemilukada Surakarta' Category

Ketua KPU Keynote Speech Evaluasi Pemilukada Surakarta 2010

Dalam upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu, KPU Kota Surakarta akan myelenggarakan Seminar Evaluasi Pelaksanaan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surakarta 2010. Ketua KPU Prof. Dr. H. A. Hafidz Anshary AZ. MA dipastikan hadir sebagai Keynote Speaker. Seminar ini merupakan rangkaian acara puncak setelah 3 (tiga) hari berturut-turut Focuss Group Discussion (FGD) secara berjenjang ditingkat KPPS, PPS dan PPK telah dilaksanakan dengan menghsilkan potret problematika dan rekomendasi terkait penyelenggaraan pemilu pada masing-masing tingkatan. 

Seminar evaluasi pelaksanaan pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surakarta 2010 akan menghadirkan 4 (empat) narasumber yaitu Drs Andreas Pandiangan, M.Si (KPU Provinsi Jawa Tengah), Moh. Jamin, SH.,M.Hum (Dekan Fak. Hukum UNS), Sri  Sumanta, SH (Ketua Panwaslu) dan Didik Wahyudiono, (Ketua KPU Kota Surakarta). Peserta dalam seminar ini adalah seluruh stakeholders pemilu se Soloraya ungkap Agus Sulistyo (Divisi Data & Informasi)  yang dalam acara tersebut sebagai moderator.

Dalam seminar ini, dinamika pelaksanaan pemilukada di Jawa Tengah akan disampaikan oleh Andreas Pandiangan, MSi (KPU Provinsi Jawa Tengah), plus minus pelaksanaan pemilukada Walikota dan Wakil Walikota Surakarta akan disoroti oleh Moh. Jamin, M.Hum, sedangakan catatan hasil pengawasan pelaksanaan pemilukada akan disampaikan oleh Sri Sumanta, SH (Ketua Panwaslu Kota Surakarta). Dari pelaksanaan seminar ini, diharapkan akan menghasilkan rekomendasi penting yang ditujukan kepada pemerintah, DPR ataupun lembaga penyelenggara pemilu agar pelaksanaan pemilihan umum ke depan dapat dilaksanakan secara lebih berkualitas.

KPU Solo Kaji Penyebab Golput

Fenomena golongan putih (golput) atau pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam setiap pemilu selalu menjadi salah satu tolok ukur kredibilitas keberhasilan pemilu. Pemilukada Kota Surakarta yang telah terlaksana tanggal 26 April 2010 lalu menurut sebagian pengamat dipredikasi bahwa tingkat golput di Solo akan tinggi, bahkan mencapai di atas 40% disebabkan karena hari pemungutan suara bertepatan dengan hari kerja (yang diliburkan).

Namun, prediksi tersebut terbantahkan ketika hasil perhitungan dari berbagai sumber menyatakan bahwa tingkat partisipasi pemilih di Solo diluar dugaan ternyata tingkat partisipasinya tinggi, terlebih hasil tersebut diperkuat dengan hasil perhitungan dan rekapitulasi yang dilakukan oleh KPU Kota Surakarta yang menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih sebesar 71,80%, artinya tingkat ketidakhadiran pemilih/golput hanya 28,20%. “Tingkat partisipasi pemilih ini tertinggi diantara 5 (lima) Kabupaten/Kota yang sudah menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah di Jawa Tengah. Tingginya partisipasi ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian serta kesadaran politik masyarakat Kota Solo dan sekaligus menepis anggapan orang bahwa masyarakat sudah jenuh pemilu dan enggan datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya”, ungkap Agus Sulistyo, selaku Divisi Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga KPU Solo ini.

Menurut Ketua KPU Solo Didik Wahyudiono, disampaikan bahwa “sebagai tindak lanjut, KPU Kota Surakarta akan melakukan kajian penyebab mengapa masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya. KPU akan melakukan kajian berdasarkan survey sederhana dengan metode wawancara mendalam (indepth interview)”.

Sampel ditentukan dengan metode purposive sampling diambil terhadap 11% (sebelas persen) dari TPS yang tersebar di seluruh Kota Surakarta. Metode pengambilan sampel dengan cara PPS akan melakukan wawancara terhadap 2 (dua) orang Ketua/Anggota KPPS yang berada di wilayah kerjanya. Variabel yang menjadi varian golput (tidak menggunakan hak pilih) adalah: nama ganda, meninggal, pindah domisili, bekerja di luar kota dan alasan lainnya (sakit, bepergian, alasan politis).

Dari hasil wawancara mendalam (indepth interview) yang dilakukan di 102 TPS oleh PPS, diharapkan akan memberikan gambaran sejauhmana varian tidak menggunakan hak pilih yang disebabkan karena alasan politis tersebut signifikan atau tidaknya menjadi pemicu terhadap tingginya golput di Kota Surakarta. Setelah diperoleh hasil, laporan disampaikan kepada KPU tanggal 22 Mei 2010, selanjutnya akan dikaji dan menjadi bahan evaluasi dalam Focus Group Discussion (FGD) di tingkat PPK dan KPU yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010 mendatang. (red).

Rekapitulasi di PPK Kilat

Mulai hari ini, 28 April s/d 01 Mei 2010 PPK diseluruh Kota Surakarta tengah disibukkan dengan kegiatan rekapitulasi perolehan hasil Pemilu Walikota dan Wakil Walikota 2010. Tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, pelaksanaan rekapitulasi pemilukada pada kali ini berjalan sangat cepat. Satu kecamatan maksimal hanya membutuhkan waktu 120 menit atau 2 (dua) jam. Artinya dari jatah waktu 3 (tiga) hari yang telah dijadwalkan, rata-rata hanya dimanfaatkan selama 2 jam saja untuk pelaksanaan rekap. PPK yang pertama kali menyelesaikan rekapitulasi adalah PPK Kecamatan Serengan, selesai dalam waktu 45 menit. Ketika dikonfirmasi, Ketua PPK Serengan Yulianto S.Pd menjelaskan bahwa selain jumlah TPSnya sedikit, saat dimulai penghitungan, saksi kedua pasangan calon, panwascam dan audien yang hadir menghendaki untuk tidak membuka kotak dan langsung dilakukan proses rekapitulasi sehingga rekapitulasi dapat berjalan lebih cepat selesai dari yang dijadwalkan oleh KPU Kota Surakarta. Tentunya hal ini akan menambah sederatan catatan positif prestasi yang telah dicapai pada pelaksanaan Pemilukada Surakarta 2010 ini disamping keberhasilan dari sisi partisipasi pemilih yang menembus angka di atas 71,76%. Keberhasilan Pemilukada Surakarta bukan hanya semata-mata karena KPU sebagai penyelenggara, tetapi keberhasilan ini adalah keberhasilan masyarakat Kota Surakarta, demikian diungkapkan oleh Didik Wahyudiono, selaku Ketua KPU Kota Surakarta.

Hasil Perolehan Suara Sementara KPU

Guna memenuhi keinginan masyarakat agar dapat memperoleh informasi yang cepat mengenai perkembangan perolehan hasil sementara, KPU Kota Surakarta menyelenggarakan perhitungan perolehan sementara. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling, yang ditentukan dan diambil sebesar 75% dari masing-masing PPS/Kelurahan di seluruh Kota Surakarta. Jumlah sampel sebanyak 699 TPS dari 932 TPS Pemilukada 2010 diseluruh Kota Surakarta. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari hasil perolehan suara formulir C1 yang dikirim oleh KPPS langsung ke KPU setelah selesai dilakukan penghitungan yaitu antara pukul 14.00 wib s/d 24.00 pada tanggal 26 April 2010. Adapun perolehan hasil sementara adalah sebagai berikut:

KPU Selenggarakan Quick Count

Dalam upaya memenuhi keinginan masyarakat tentang kecepatan informasi perolehan hasil, KPU Kota Surakarta tengah mempersiapkan perhitungan cepat untuk perolehan suara pada Pemilu Walikota dan Wakil Walikota Surakarta 26 April 2010 besok. Namun demikian, perolehan hasil kegiatan ini hanyalah bersifat sementara, dan tidak dapat digunakan sebagai patokan hasil keseluruhan, karena peghitungan perolehan hasil hanya akan dilakukan terhadap 699 TPS dari 932 TPS yang ada atau sebanyak 75% dari jumlah TPS Pemilukada pada kali ini, demikian disampaikan Agus Sulistyo selaku Divisi Data Informasi & Hubungan Antar Lembaga KPU Kota Surakarta. Masyarakat dapat melihat pergerakan perolehan hasil sementara yang akan dilansir secara terbuka di KPU Kota Surakarta, dan akan di-update setiap 30 detik.

KPU baru akan mengeluarkan hasil secara resmi setelah tahapan rekapitulasi selesai yang dilakukan melalui tahapan penetapan hasil pemilu. Tahapan dan jadwal yang telah ditetapkan KPU adalah sebagai berikut:

  1. Rekapitulasi di tingkat PPK tanggal 28 April s/d 01 Mei 2010
  2. Rekapitulasi di tingkat KPU tanggal 02 s/d 03 Mei 2010
  3. Penetapan hasil Pemilu tanggal 03 Mei 2010
  4. Penyampaian keberatan hasil pemilu tgl 4 s/d 6 Mei 2010
  5. Apabila tidak ada keberatan, dilanjutkan dengan kegiatan penetapan calon terpilih

Pemilukada merupakan ritual politik lima tahunan untuk memilih calon pemimpin secara konstitusional. Keberhasilan Pemilukada tidak dapat digantungkan hanya kepada KPU sebagai penyelenggara, namun keberhasilan dan kesuksean pemilu akan lahir ketika diikhtiarkan dengan sungguh-sungguh oleh segenap penyelenggara, peserta pemilu, pemerintah dan masyarakat sebagai subyek pemilu.

Selamat datang di TPS, gunakan hak pilih anda dengan cerdas dan bertanggungjawab dengan cara MENCOBLOS SALAH SATU GAMBAR/FOTO/NAMA PASANGAN CALON Walikota dan Wakil Walikota Surakarta 2010. Solo-ku,.. Solo-mu,..adalah Solo Kita. Mari kita sukseskan Pemilukada Surakarta 2010 dengan cara datang ke TPS untuk menggunakan hak pilih Senin, 26 April 2010 pukul 07.00 s/d 13.00 wib.(red)

KPU Akomodir Hak Konstitusional Warga

Berdasarkan hasil Rapat Pleno KPU Kota Surakarta tanggal 23 April 2010, KPU menerbitkan surat Nomor 270/291/KPU-SKA/IV/2010 disebutkan bahwa dalam rangka pemenuhan hak pilih Warga Negara Republik  Indonesia, warga yang dapat menggunakan hak pilih, harus terdaftar sebagai pemilih:

  1. Terdaftar dalam DP4 dan/atau DPS, dan/ atau DPSHP dan/ atau DPT;
  2. Terdaftar dalam DP4, tetapi tidak tercantum dalam DPS, DPSHP dan DPT;
  3. Terdaftar dalam DP4 dan DPS, tetapi tidak tercantum dalam DPSHP dan DPT;
  4. Terdaftar dalam DP4, DPS dan DPSHP, tetapi tidak tercantum dalam DPT;
  5. Dalam hal pemilih terdaftar sebagaimana angka 2,3, dan 4, KPU Kota Surakarta mengakomodir pemilih yang bersangkutan sehingga dapat menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan suara.

Terbitnya surat ini dilatarbelakangi sebagai upaya untuk menjamin hak-hak konstitusional warga dalam menggunakan hak pilih.  Bagi warga yang memenuhi ketentuan tersebut di atas, PPS dapat  segera memproses dan memberi  undangan (Model C6 – PKWK). Dalam menggunakan haknya, pemilih sebagaimana yang diakomodir dalam ketentuan ini dengan cara menunjukkan undangan (Model C6 – PKWK) dan KTP atau Kartu Keluarga demikian diungkapkan Pata Hindra Arynto, Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Kota Surakarta.

Jo-Dy Tidak Hadir, Debat Paslon Gagal

Debat pasangan calon walikota dan wakil walikota  2010-2015  yang sedianya diselenggarakan tanggal 21 April 2010 dari gedung Graha Wisata Niaga terpaksa  dibubarkan oleh KPU Kota Surakarta karena Pasangan Calon Jo-Dy tidak hadir. Ketua KPU Kota Surakarta, Didik Wahyudiono langsung mengambil alih kendali ketika presenter sekaligus moderator memanggil Pasangan Jo-Dy sampai 2 (dua) kali tidak hadir dan tidak ada yang mewakili nya. Menurut Tim pemenangan Jo-Dy, ketidakhadiran Jo-Dy terkait dengan ketidakhadiran salah satu panelis yaitu Dr. Rahayu Supanggah. Nama tersebut yang mengusulkan adalah KPU, bukan Tim Sukses, yang telah disepakati pada acara rakor Tim Sukses dan Panwas yang dselenggarakan oleh KPU. Namun setelah dikonfirmasi, Rahayu Supanggah diperoleh kepastian bahwa yang bersangkutan ada di Luar Negeri sehingga tidak dapat mengikuti acara tersebut. Berita tersebut diperoleh pada hari Senin, 19 April 2010 sore hari. menghadapi kondisi yang demikian KPU mengambil keputusan untuk mendatangkan panelis alternatif yaitu Ki Jlitheng Suparman dan segera menyampaikan melalui roundown yang diperoleh dari TATv.

Sebenarnya KPU telah sangat berbaik hati dan mengakomodir masukan Tim Jo-Dy yang mengusulkan Isharyanto, SH, M.Hum sebagai salah satu panelis, tetapi kenapa justru yang dipersoalkan malah ketidakhadiran Dr. Rahayu Supanggah, dan ketidak hadiran Dr. Widodo Muktiyo sebagai moderator, padahal kita juga sudah melakukan komunikasi dengan yang bersangkutan ternyata juga tidak bisa, ungkap Agus Sulistyo, salah satu anggota KPU Solo ini. Pertemuan antara Tim Jo-Dy, Wi-Di, Panwaslu, KPU dan Poltabes 2 jam sebelum pelaksanaan,  KPU  sudah menawarkan, seandainya  ada moderator, apakah pasangan calon akan hadir pada acara tersebut. Suharsono, perwakilan  Tim Jo-Dy bersikukuh menolak hadir.

Tanggapan masyarakat atas gagalnya  debat sangat beragam.  Salah seorang warga yang tidak mau disebut namanya yang sehari-hari  sebagai karyawan swasta mengaku  kecewa dengan ketidakhadiran Pak Jo-dy,  kok bisa ya? padahal masyarakat sudah pada menunggu di depan Tv ingin melihat acara debat calon walikota yang mereka nanti-nantikan karenaacara tersebut sudah sangat gencar diinformasikan baik melalui TATv maupun RRI yang akan menyiarkan secara langsung.

Senada dengan masyarakat yang lainnya, Mbok Poniyem yang sehari-hari berdagang di pasar, mengaku sudah menyiapkan diri untuk melihat acara, namun akhirnya “nggrundel” gimana tho kok tidak datang, kan sudah direncanakan dengan uang dari rakyat yang tidak sedikit kok malah tidak datang, “mosok kedua duanya tidak bisa, yo lucu tho mas ” ungkap Poniyem.

KPU Kota Surakarta  sebagai penyelenggara, hanya dapat memfasilitasi mereka berdasarkan ketentuan yang berlaku. Pasangan calon datang atau tidak, itu adalah hak mereka sebagai pasangan calon. Masyarakat yang akan menilai sikap calon-calon pemimpinnya. (red)



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.